Dalam persaingan bisnis modern, kesuksesan bukan lagi tentang seberapa banyak barang yang dapat diproduksi, tetapi seberapa efisien pengelolaan biaya dan waktunya.
Masalahnya, banyak perusahaan terjebak pada pembengkakan biaya gudang akibat barang mengendap atau tumpukan stok yang masih tersimpan lama tanpa pergerakan penjualan.
Salah satu solusi kunci yang diterapkan perusahaan untuk mengatasinya, yaitu dengan mengubah strategi supply chain management (SCM) menjadi just in time (JIT) inventory.
Sederhananya, just in time inventory adalah metode untuk memastikan barang tiba tepat waktu saat hendak digunakan sehingga tidak ada ruang, waktu, dan uang yang akan terbuang sia-sia.
Artinya, rantai pasok di gudang akan diatur sedemikian rupa agar bahan baku tiba di pabrik tepat di hari produksi dimulai. Untuk selengkapnya, mari simak pembahasan di artikel berikut.
Apa Itu Just in Time Inventory?
Just in time inventory adalah strategi yang digunakan oleh perusahaan untuk manajemen persediaan dengan penghapusan pemborosan.
Jadi, fokusnya terletak pada menjaga dan menerima bahan baku hanya ketika diperlukan dalam proses produksi sehingga efektif untuk meminimalkan biaya serta ruang penyimpanan stok.
Aspek kunci dalam just in time inventory management, yakni siklus peningkatan secara berkelanjutan yang memastikan proses terus dioptimalkan untuk mencapai efisiensi.
Bagi perusahaan FMCG, hal ini berarti produk segar, pengurangan limbah, merampingkan seluruh rantai pasokan, serta peningkatan arus kas.
Untuk mendukung penerapan strategi tersebut, perusahaan membutuhkan sistem yang mampu memonitor persediaan secara detail sekaligus real-time.
Tujuannya adalah agar manajemen persediaan lebih rapi dan efisien karena dapat mencatat stok otomatis, memantau pergerakan barang, hingga menyusun laporan inventaris langsung dalam satu dasbor.
Cara Kerja Just in Time Inventory di Sektor FMCG
Pada sektor FMCG, just in time inventory dapat memastikan bisnis tidak lengah terhadap perubahan permintaan yang tidak terduga. Nah, proses ini tentunya bergantung pada beberapa faktor, antara lain:
- Integrasi Teknologi: Alat prediksi berbasis AI (Artificial Intelligence) dan Otomasi Tenaga Penjualan (Sales Force Automation) untuk mengoptimalkan proyeksi permintaan.
- Efisiensi Logistik: Jaringan distribusi yang dimaksimalkan untuk pengisian persediaan secara lancar. Misalnya, retailer seperti supermarket bergantung pada JIT inventory guna menjaga ketersediaan barang di rak tanpa membebani ruang penyimpanan, memastikan barang segar selalu tersedia, dan mengurangi pemborosan.
- Pengisian Ulang Menurut Permintaan: Manajemen stok yang didasarkan pada data penjualan real-time dan tren pasar.
- Hubungan Supplier yang Kuat: Untuk memastikan pengiriman secara tepat waktu melalui kemitraan yang strategis.
Baca juga: Inventory Turnover Formula: Pengertian dan Cara Menghitungnya!
Manfaat Just in Time Inventory
Penerapan just in time inventory management pada perusahaan dapat mendatangkan berbagai manfaat. Adapun beberapa manfaat just in time inventory adalah sebagai berikut.
1. Waste Elimination
Model manajemen JIT inventory bisa membantu menghilangkan pemesanan secara berlebihan (overordering) dan kelebihan dalam segala bentuk, seperti:
- Mengurangi Dead Stock: Rendahnya tingkat stok secara signifikan akan meminimalkan risiko persediaan yang menumpuk di gudang dan tidak terjual hingga menjadi usang.
- Mengurangi Kerugian Produk Cacat: Stok barang yang cacat menjadi lebih mudah diidentifikasi serta diperbaiki saat tingkat produksi rendah. Ini dapat menekan biaya barang rusak.
2. Meningkatkan Efisiensi
Just in time inventory management bermanfaat untuk menghapus biaya yang timbul akibat bahan baku tambahan, stok tidak diperlukan, maupun penyimpanan produk.
Dengan demikian, efisiensi pun meningkat. Hal ini akan menghasilkan rasio perputaran persediaan yang lebih tinggi sehingga meminimalkan keusangan stok.
3. Produktivitas Lebih Tinggi
Berikutnya, manfaat just in time inventory adalah meningkatkan produktivitas. Sebab, strategi ini mempercepat pengiriman produk dan mengurangi waktu tunggu antartahapan produksi.
Alhasil, siklus produksi berjalan lebih efisien. JIT inventory juga meminimalkan persediaan berlebih sekaligus cost reduction penyimpanan di gudang, seperti sewa dan pemeliharaan.
Dengan stok bahan baku lebih sedikit untuk digunakan sebelum perubahan produk, tentu akan mempermudah penerapan “engineering change orders” pada produk yang telah ada.
Hal ini bagus untuk mengurangi risiko barang sisa atau usang serta mempercepat adopsi desain baru pada produk bisnis perusahaan.
4. Meningkatkan Kualitas
Dengan just in time inventory, barang yang beredar di lantai produksi menjadi lebih sedikit. Ini memungkinkan tim untuk berfokus pada pembuatan produk berkualitas tinggi.
Tingkat cacat produk yang lebih rendah (hasil lebih baik) tentu akan meningkatkan kepuasan konsumen/pelanggan serta mengurangi pengeluaran kas untuk produksi.
5. Responsivitas Terhadap Permintaan Pasar Lebih Baik
Melalui penerapan manajemen just in time inventory, perusahaan bisa lebih responsif terhadap perubahan dalam permintaan pasar.
Kemampuan untuk menyesuaikan produksi dan menyediakan stok dengan cepat memungkinkan perusahaan memenuhi apa yang diminta oleh pelanggan secara efektif.
Baca juga: Apa Itu Overstock? Ini Penyebab, Dampak, & Cara Mengatasinya
Tantangan Implementasi Just in Time Inventory pada Sektor FMCG
Meskipun menyimpan manfaat potensial, nyatanya aktualisasi just in time inventory tidak semudah yang dipikirkan. Terdapat berbagai tantangan yang perlu dihadapi. Berikut ini merupakan beberapa tantangan implementasi JIT inventory, terutama di industri FMCG.
- Risiko Rantai Pasokan: Keterlambatan atau gangguan bisa menyebabkan stockout (kehabisan persediaan).
- Dibutuhkan Proyeksi yang Akurat: Jika terjadi kesalahan pada perhitungan, maka berpotensi menyebabkan kelangkaan.
- Stok Penyangga Terbatas: Tidak adanya ruang untuk lonjakan permintaan yang tidak terduga.
- Ketergantungan Tinggi pada Pemasok: Kemitraan sangat penting karena sistem ini beroperasi dengan zero inventory (stok minimal). Saat pemasok gagal mengirim tepat waktu atau kualitas bahan buruk, maka lini produksi berisiko terhenti total.
Demikian penjelasan mengenai apa itu just in time inventory, cara kerja, manfaat, dan tantangan implementasinya pada bisnis perusahaan.
Melalui informasi di atas, bisa dipahami bahwa penerapan just in time inventory adalah langkah besar bagi perusahaan yang ingin bertransformasi dari sistem operasional kaku menjadi lebih ramping.
Tidak hanya menghemat anggaran, sistem tersebut memberikan peluang bagi perusahaan untuk membangun bisnis yang lebih sehat secara finansial.
Nah, untuk manajemen stok pada sektor FMCG, Anda dapat mengandalkan esuite dari eDOT. esuite merupakan platform DMS yang memberikan data akurat dan mengotomasi tugas sehingga meminimalkan kesalahan manual.
Dengan demikian, Anda dapat menentukan jumlah persediaan yang diperlukan tanpa harus khawatir overstock atau stockout. Produk pun akan tersedia dalam waktu yang tepat dan bisa dikirimkan ke pelanggan tepat waktu.
Tunggu apa lagi? Hubungi kami untuk mengonsultasikan aplikasi esuite demi kemudahan dalam pengelolaan rantai pasok yang lebih efisien sekarang!
Baca juga: Mengenal Digital Supply Chain, Manfaat, & Cara Menerapkannya