LIFO adalah singkatan dari “last in, first out”, di mana barang terakhir masuk menjadi barang pertama keluar. Banyak orang sebenarnya sudah sering memakai metode ini, terutama dalam urusan stok atau persediaan, tapi belum menyadari istilahnya.
Dengan memahami LIFO, Anda bisa lebih mudah mengatur stok dan mengetahui alasan di balik urutan keluar-masuk barang.
Untuk mengetahui lebih lengkap apa itu LIFO dan manfaatnya dalam mengatur persediaan, simak artikel ini sampai selesai.
Apa Itu LIFO?
LIFO (last in, first out) adalah metode di mana barang terakhir yang masuk gudang akan menjadi yang pertama keluar, baik untuk dijual maupun digunakan. Dengan cara ini, harga barang terbaru yang masuk dijadikan acuan dalam menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).
Berbeda dengan FIFO yang mengutamakan stok lama, LIFO menyesuaikan biaya barang dengan harga pasar terkini. Saat harga terus naik, HPP menjadi lebih tinggi, laba kotor tercatat lebih rendah, dan pajak yang dibayar ikut berkurang.
Metode LIFO relevan untuk bisnis FMCG karena produk yang cepat bergerak dan sering mengalami perubahan harga, seperti minuman, makanan ringan, atau barang kebutuhan sehari-hari, memerlukan penyesuaian HPP yang cepat agar keuntungan dan perencanaan pajak lebih akurat.
Dengan LIFO, perusahaan FMCG bisa lebih mudah memantau biaya terbaru dan menjaga kestabilan margin meski harga bahan baku naik. Metode LIFO juga terkait dengan pencatatan persediaan dan manajemen akuntansi.
Meskipun bermanfaat dalam kondisi tertentu, LIFO tidak diperbolehkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) di Indonesia karena mengikuti prinsip IFRS (International Financial Reporting Standards).
Manfaat LIFO
Dengan memahami konsep LIFO, bisa dilihat bahwa metode ini tidak hanya memengaruhi urutan keluar masuk barang, tapi juga berdampak pada pengelolaan keuangan dan pencatatan persediaan. Berikut beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari penerapan LIFO:
1. Efisiensi Pajak
Saat harga terbaru dipakai untuk menghitung HPP, keuntungan kotor yang tercatat akan tampak lebih kecil. Akibatnya, jumlah pajak penghasilan yang harus dibayar perusahaan bisa turun cukup banyak. Inilah salah satu alasan kenapa perusahaan di negara yang memperbolehkan LIFO memilih menggunakan metode ini.
2. Pencatatan yang Lebih Relevan dengan Kondisi Pasar
Karena LIFO memakai harga barang yang terakhir dibeli, HPP yang tercatat jadi lebih dekat dengan harga jual sekarang. Cara ini membantu perusahaan menjaga keuntungan tetap realistis, terutama saat harga-harga naik karena inflasi.
3. Perlindungan dari Dampak Inflasi
Di industri dengan harga yang cepat berubah, seperti FMCG, manufaktur, atau otomotif, LIFO membantu perusahaan menyesuaikan perhitungan HPP dengan harga terbaru. Dengan begitu, perusahaan bisa lebih siap menghadapi kenaikan harga bahan baku dan menjaga stabilitas daya beli serta margin keuntungan.
4. Kesesuaian untuk Analisis Internal
Meski LIFO tidak diizinkan untuk pelaporan keuangan resmi di Indonesia, perusahaan kadang tetap menggunakan metode ini untuk keperluan internal. Dengan LIFO, mereka bisa membuat simulasi untuk melihat bagaimana perubahan harga memengaruhi margin keuntungan dan jumlah pajak, sehingga perencanaan bisnis menjadi lebih matang.
Baca juga: Manajemen Gudang: Definisi, Tujuan, dan Strateginya
Tantangan LIFO
Meski LIFO memiliki berbagai manfaat untuk analisis internal dan perencanaan, metode ini juga menghadirkan beberapa tantangan yang perlu diperhatikan oleh perusahaan. Berikut beberapa kendala yang sering muncul saat menggunakan LIFO:
1. Tidak Diperbolehkan oleh Standar Akuntansi di Indonesia
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang mengikuti IFRS, LIFO tidak boleh digunakan untuk laporan keuangan resmi. Artinya, meski perusahaan boleh memakai LIFO untuk analisis internal, saat membuat laporan yang diaudit mereka tetap harus memakai metode lain, seperti FIFO atau Average.
2. Pencatatan Lebih Rumit
LIFO perlu pencatatan persediaan yang rapi dan detail supaya urutan barang masuk dan keluar tetap tepat. Jika perusahaan masih mengandalkan catatan manual atau spreadsheet sederhana, kemungkinan terjadi kesalahan data jadi cukup besar.
3. Potensi Distorsi Nilai Persediaan
Mengingat stok lama jarang keluar, nilai persediaan yang tercatat di neraca seringkali tidak sesuai dengan harga pasar saat ini. Hal ini bisa membuat pemangku kepentingan atau calon investor salah menilai kondisi keuangan perusahaan, karena angka yang terlihat tidak mencerminkan biaya atau nilai barang yang sebenarnya berlaku di pasar.
4. Risiko Keusakan Produk
Di industri seperti FMCG atau farmasi, stok lama yang tidak cepat keluar berisiko melewati tanggal kedaluwarsa. Akibatnya, barang tersebut tidak bisa dijual dan perusahaan harus menanggung kerugian tambahan. Hal ini membuat pengelolaan persediaan menjadi lebih penting agar stok selalu bergerak dan kerugian akibat produk kedaluwarsa bisa diminimalkan.
Perbedaan LIFO dan FIFO
LIFO dan FIFO berbeda dalam beberapa hal penting yang memengaruhi perhitungan HPP, penilaian persediaan, dan respons terhadap perubahan harga. Berikut perbedaan utamanya:
1. Metode yang Digunakan
Perbedaan utama antara LIFO dan FIFO terletak pada cara mengeluarkan stok dari gudang. Pada LIFO, barang yang paling terakhir masuk akan dijual atau digunakan lebih dulu, sehingga harga terbaru menjadi acuan perhitungan.
Sebaliknya, FIFO mengutamakan barang yang pertama masuk untuk keluar terlebih dahulu, sehingga stok lama dipakai dulu. Perbedaan ini memengaruhi perhitungan Harga Pokok Penjualan, nilai persediaan, dan cara perusahaan menyesuaikan diri dengan perubahan harga di pasar.
2. Harga Pokok Penjualan
FIFO dan LIFO juga berbeda dalam perhitungan harga pokok penjualan. Pada LIFO, harga pokok penjualan mengikuti harga barang terbaru yang masuk, jadi mencerminkan harga pasar saat ini.
Sementara pada FIFO, stok yang tersisa di gudang adalah barang terbaru sehingga nilai persediaan menunjukkan harga pasar saat ini.
3. Stok di Tangan
Perbedaan lain antara FIFO dan LIFO terlihat pada stok yang masih ada di gudang. Dengan FIFO, stok di tangan biasanya terdiri dari barang terbaru karena yang lebih lama sudah keluar dulu.
Sebaliknya, pada LIFO, stok yang tersisa adalah barang yang paling lama karena barang terbaru yang keluar terlebih dahulu. Perbedaan ini memengaruhi nilai persediaan yang tercatat di neraca dan bagaimana perusahaan menilai stoknya.
Baca juga: Inventory Valuation: Definisi, Tujuan, dan Metodenya
4. Penilaian Inventaris
Perbedaan berikutnya antara FIFO dan LIFO ada pada penilaian inventaris. LIFO tidak diperbolehkan untuk menilai inventaris jika mengikuti aturan Kerangka Pelaporan Keuangan Internasional. Sementara itu, FIFO tetap bisa digunakan untuk menilai inventaris sesuai aturan tersebut.
5. Inflasi
Saat terjadi inflasi, LIFO membuat pajak penghasilan (PPh) menjadi lebih rendah karena harga terbaru dipakai sebagai dasar perhitungan HPP. Sebaliknya, dengan FIFO, pajak penghasilan cenderung lebih tinggi karena stok lama yang lebih murah digunakan dulu untuk menghitung HPP.
6. Deflasi
Apabila harga-harga turun (deflasi), perhitungan pajak penghasilan juga ikut berubah. Dengan metode LIFO, pajak yang harus dibayar justru lebih tinggi karena harga terbaru yang lebih rendah memengaruhi HPP. Sementara pada FIFO, pajak menjadi lebih kecil karena stok lama yang lebih mahal sudah digunakan terlebih dahulu.
Kelola Stok Efektif Bersama esuite
Itulah penjelasan mengenai apa itu LIFO hingga perbedaannya dengan FIFO. Dengan memahami LIFO, Anda bisa melihat bagaimana metode ini mengeluarkan barang terakhir masuk lebih dulu sehingga harga terbaru langsung memengaruhi perhitungan HPP.
Untuk mendukung pengelolaan stok, esuite dari eDOT hadir sebagai solusi digital yang terintegrasi dengan ekosistem eDOT lainnya, termasuk ework. Sistem esuite memastikan data persediaan selalu real-time, akurat, dan minim kesalahan manusia.
Dengan esuite, Anda dapat memantau pergerakan stok di gudang maupun toko, mengetahui kapan stok mulai menipis, serta merencanakan kebutuhan dengan lebih presisi. Dengan begitu, risiko stok berlebihan atau kehabisan bisa ditekan, dan operasional bisnis berjalan lebih efisien.
Segera manfaatkan esuite agar pengelolaan stok menjadi lebih praktis, terukur, dan modern. Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan penawaran dan rasakan kemudahan mengatur persediaan dengan sistem digital yang cerdas.
Baca juga: Kenapa Harus Kolaborasi Supply Chain? Pentingnya bagi Bisnis